RSS

Berita Misi dari Perancis (Penulis Rm. Edyanto MSF)

Berita Misi dari Perancis (Penulis Rm. Edyanto MSF)

Delapan bulan sudah saya berada di Perancis. Setelah menjalani masa persiapan tugas di Avignon, sekarang saya sudah tinggal di komunitas St.Jean de Bournay. Dan saya pun sudah terlibat dalam karya pastoral di Paroki St. Hugues de Bonneveux. Dalam tulisan singkat ini saya ingin memaparkan perjalanan menjalani tugas perutusan di Perancis. Tentu suka duka dan jatuh bangun yang saya alami selama kurun waktu 8 bulan.

Masa Persiapan
Saya meninggalkan Indonesia tanggal 20 Januari 2008 dengan menumpang pesawat Air France. Saya langsung tinggal di komunitas Notre Dame de Manissy yang terletak 25 Km dari Avignon Perancis Selatan. Perlu diketahui semenjak dijualnya rumah propinsialat di Chapponost, sekarang komunitas ini berfungsi sebagai Propinsialat. Saya di sini tinggal bersama 8 imam dan 3 bruder. Mereka semua sudah berusia lanjut. Paling muda berusia 70 tahun. Hanya dua orang yang masing bertugas di Paroki secara rutin.

Satu orang berkarya kategorial. Dan yang lain statusnya sudah pensiun. Hanya kadang-kadang mereka membantu paroki untuk misa mingguan. Selama tinggal di sini saya mengambil kursus bahasa Perancis di Fakultas Sastra Universitas Avignon. Kursus intensif ini saya jalani 4 hari per minggu mulai bulan Februari sampai dengan bulan Mei. Tiap hari rata-rata 4 jam. Selain itu dalam liburan musim panas, saya ambil kursus bahasa selama satu bulan. Di samping itu di komunitas tiap hari Kamis, hari tidak ada kursus, selama dua jam saya dilatih membaca dalam bahasa Perancis oleh seorang Romo. Selama kursus komunitas menyediakan sebuah mobil untuk dipakai. Jadi setiap hari saya kursus dengan menggunakan mobil itu. Hal ini mengingat tidak ada kendaraan umum yang melintas di dekat komunitas.

Selama satu tahun saya boleh menggunakan SIM Indonesia. Tetapi setelah itu saya diharuskan ujian SIM untuk mendapatkan SIM Perancis. SIM internasional pun hanya berlaku 1 tahun. Ini adalah kebijakan Negara Perancis. Untuk Negara Uni Eropa dan negara-negara bekas jajahan Perancis ( Franco-phone) mereka langsung dapat menukar SIM tanpa harus ujian dulu. Memang agak aneh. Mereka telah member ijin kepada saya selama satu tahun, tetapi kemudian saya harus ujian SIM. Tapi saya tidak punya pilihan. Harus saya ikuti walau biayanya sangat mahal untuk orang Indonesia. Saya merasakan situasi ideal untuk belajar bahasa Perancis. Di kelas tidak ada orang Indonesia, bahkan di Avignon pun tidak ada. Jadi selama itu saya dipaksa berbicara dan mendengar dalam bahasa Perancis. Anggota komunitas pun sangat membantu saya.

Mulai bulan April komunitas mulai melibatkan saya memimpin misa kominitas yang tanpa kotbah. Bahkan mulai bulan Agustus saya diminta misa di paroki. Mereka pun dengan senang hati mau mengoreksi kotbah yang telah saya tulis sebelum saya memimpin misa. Saya memang mengikuti kursus bahasa praktis hanya 6 bulan. Tentu ini sangat kurang. Sebagai perbandiangan konfrater yang dari Polandia menjalani masa persiapan bahasa selama 2 tahun. Maka dari itu saya masih merasa perlu untuk mengambil kusus lagi. Tentang waktunya saya belum jelas. Karena sekarang saya masih dalam taraf adaptasi dengan situasi komunitas baru dan tugas di Paroki.

Selama ini secara informal rutin 2 kali seminggu saya mengadakan pertemuan dengan seorang bapak dan ibu untuk kursus bahasa dan persaiapan misa ( koreksi kotbah dan arti kulasi). Tentu di samping bahasa saya juga harus memahami peorganisasian karya pastoral Gereja yang agak berbeda dengan di negara kita. Banyak kebiasaankebiasaan yang ti dak tertulis harus saya pelajari. Dan ti dak lupa pula pemahaman budaya dan pola berpikir orang Perancis juga merupakan keharusan bagi saya. Melalui dialog dan melibatkan diri dalam kegiatan paroki bahkan keolahragaan yang saya ikuti membantu saya untuk memahami hal-hal di atas.

Gereja Katolik di Perancis
Negara Perancis secara resmi adalah Negara sekuler. Jadi di sekolah tidak ada pelajaran agama, bahkan dilarang memakai atau menggunakan atribut keagamaan. Praktis ada pemisahan antara Negara dan agama. Para pemimpin agama diperlakukan sebagai warga Negara biasa; contohnya harus membayar pajak penghasilan. Karena uang beaya hidup dari Keuskupan dianggap sebagai gaji. Kepemilikan Gereja praktis sudah menjadi milik commune (desa), bukan paroki lagi. Termasuk tempat tinggal pastor. Memang ada untungnya; beaya perawatan ditanggung paroki dan desa. Sekarang di semua keuskupan di Perancis ada penggabungan beberapa paroki menjadi satu paroki. Dulu satu desa menjadi satu paroki. Hal ini dilakukan karena jumah umat yang aktif dan jumah imam semakin menurun.

Gereja di sini praktis berkarya hanya di bidang spiritual. Sekolah yang dikelola Gereja sudah sangat sedikit. Pelayanan kesehatan sudah tidak ada lagi. Pelayanan sosial masih kuat di sini. Hanya sayangnya hanya sedikit orang Perancis yang merasakan manfaatnya. Kebanyakan adalah para pendatang asing. Kehidupan Gereja di sini praktis ditandai dengan menurunnya jumlah umat yang aktif. Di sini dikenal istilah iman empat roda. Karena orang Perancis pasti minimal 4 kali pergi ke Gereja untuk meminta pelayanan empat sakramen, yaitu baptis, komuni pertama, perkawinan dan pemakaman.

Orang Perancis menganggap bahwa tradisi Kristen adalah tradisi kebudayaan nenek moyang. Tidak mengherankan bila mereka minta pelayanan sakramental lebih diwarnai semangat menghormati tradisi budaya. Sakramen dilihat sebagai peristiwa keluarga. Karena biasa setelah upacara seluruh keluarga berkumpul untuk pesta. Bukan peristiwa keselamatan. Motivasi iman masih lemah sekali. Bisa dibayangkan bagaimana orang tua yang tidak pernah ke Gereja tiba-tiba minta romo untuk membaptis anak mereka. Kadang kursus persiapan sebagai suatu paksaan. Dan dalam pelaksanaan, suasana liturgis tidak tercipta. Mereka pasif dan sibuk bicara sendiri. Dalam situasi demikian Gereja tidak bisa terlalu mengharapkan orang tua akan memperhati kan perkembangan iman anak.

Situasi ini diperparah dengan rendahnya keinginan para orang tua untuk melibatkan putra-putrinya dalam kegiatan katekese anak-anak di paroki. Hal yang menguntungkan adalah Gereja tidak pernah menghadapi kesulitan dalam hal keuangan. Negara atau commune juga bertanggung jawab dalam pemeliharaan Gereja. Sementara pembeayaan kegiatan Gerejani umat dengan senang hati terlibat. Kerelaan untuk memberi cukup tinggi di sini. Di samping itu iklim kebebasan individual memberi ruang gerak yang luas bagi Gereja. Tidak perlu perijinan yang rumit untuk mengadakan kegiatan. Dan praktis ti dak ada masalah dalam hal keamanan atau gangguan dari pihak lain.

Tugas Sebagai Pastor
Mulai 1 September 2008 saya secara bertugas sebagai pastor pembantu di paroki St. Hugues Bonnevaux. Paroki ini termasuk dalam keuskupan Grenoble. Kami berempat, dua sudah usia lanjut, melayani 21 desa. Jumlah umat ti dak jelas. Karena praktis semua anak di sini dibapti s. Tetapi dalam praktek, gereja seti ap misa mingguan ti dak pernah penuh. Dan kebanyakan umat yang hadir adalah para orang tua. Jarang sekali kaum muda yang datang. Pelayanan pastoral yang rutin adalah misa seti ap hari minggu di beberapa tempat. Perlu diketahui dalam pengorganisasian ke 21 desa digabung dalam 10 rélay (wilayah).

Ada satu desa jadi satu relay. Tapi ada beberapa desa membentuk satu relay. Seti ap hari minggu di seti ap relay ada misa. Hanya desanya berganti - ganti untuk rélay gabungan desa. Jadi kami paling tidak setiap minggu misa 2-3 kali. Di samping itu di beberapa tempat di adakan misa harian secara ruti n. Paroki juga mempunyai tim persiapan perkawinan dan baptis yang melibatkan banyak umat. Pelayanan pastoral yang paling rutin dan sering adalah pemakaman. Maklum karena sebagian besar umat yang aktif sudah berusia lanjut. Saya selama satu tahun ini statusnya masih paroh waktu. Setengah waktu untuk karya pastoral dan setengah waktu yang lain untuk belajar. Jadi praktis saya belum terlibat banyak. Tugas rutin saya sekarang adalah memimpin misa, pelayanan sakramen baptis dan observasi dengan terlibat dengan situasi paroki. Untuk pelayanan pengakuan dosa, perkawinan dan pemakaman saya baru akan terlibat bulan Januari 2009.

Masing-masing daerah tentu mempunyai kesulitannya tersendiri. Tetapi secara pribadi saya merasakan tugas misi di sini sungguh sulit. Di Perancis Gereja seperti kembali dari awal. Banyak romo mengatakan bahwa di Perancis perlu di reevangilisasi. Di sini agama merupakan sebuah pilihan bebas. Semua orang ti dak diharuskan beragama. Atheisme ti dak dilarang. Tantangan buat Gereja adalah bagaimana Gereja dapat mewujudkan dirinya sebagai sebuah pilihan yang menarik dan sungguh berdaya guna.

Di samping itu tingkat kesulitan bahasa Perancis sangat tinggi. Bagi orang Asia bahasa ini memang menjadi titik lemah. Saya merasakan bahwa pembukaan konstitusi kita tentang perutusan ke tempat yang jauh sungguh merupakan jawaban atas situasi konkret di Perancis. Gereja di sini sudah mulai melemah. Banyak orang yang mulai menjauh dari Tuhan. Kita dipanggil untuk mengajak kembali orang di sini kembali ke Gereja. Kita dipanggil untuk memperkuat kembali Gereja.

Hal positif yang saya temukan adalah masih ada orang yang sungguh royal kepada Gereja. Walau jumlahnya tidak banyak dan sebagian besar orang tua. Mereka ini yang menggerakkan roda kegiatan paroki. Mereka tergabung dalam kepengurusan relay atau paroki. Pendampingan iman anak dilakukan dalam wadah kateti sme yang dilakukan oleh 33 katekis. Mereka adalah para orang tua yang mau melibatkan diri. Memang kelemahannya mereka kurang dipersiapkan dengan matang.

Demikianlah pemaparan singkat hidup dan kegiatan saya selama menjalani perutusan di Perancis. Belum banyak hal yang dapat saya lakukan. Masih banyak hal yang harus saya perbaiki dan pelajari. Tentu dukungan doa dari konfrater merupakan sumber kesegaran yang ti ada tara bagi saya. Dan tentu saran dan pesan sangat berguna bagi saya. Terima kasih. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat bagi kita semua.

, , , , , , , , , , ,

This post was written by:

Andy Iswanto - who has written 37 posts on MSF- Family.

Tim Promosi Panggilan MSF Propinsi Jawa, Wisma Betlehem, Jl. Cemara 41A Salatiga - Jawa Tengah. telp (0298)322772.

Contact the author

11 Comments For This Post

  1. Nany Says:

    Selamat berkarya Rm Eddyanto,meski ditempat yang jauh kami tetap akan mendukung dengan doa. Tetap semangat and God bless you….

  2. pierre Says:

    gambarnya kekecilan romo,
    gambar waktu di makam pater berthier,
    di crop dikit,
    biar romo Edyanto keliatan….

  3. Marsi Says:

    Selamat berjuang dan melayani tuk Rm. Eddyanto. Salam hangat utk Romo Andy. Mudah-mudahan masaih kenal. Kita satu angkatan di Novisiat MSF. Salam utk teman-teman semuanya. (marsi-marsiragaleka.logspot.com)

  4. andy Says:

    hallo marsi..waaduh…aku lali…wah ternyata udah pikun deh…oke…kirim2 email aja mar..biar ingatanku kepadamu jadi pulih..ho3…

  5. Richard msf Says:

    Je suis bien content d’avoir un confrère qui as une disposition d’etre un missionaire en France. Que Dieu te benisse toujours avec sa benediction specialle et sa protection dans toutes les choses de la vie pastorale.

  6. Christin Says:

    Membaca tulisan Rm.Edyanto, berbagai perasaan timbul di hati sy, antara kagum, haru, dan sedih..selama ini sy nyaman banget hidup sbagai orang katolik dan menikmati stiap misa atau ibadat di gereja atau lingkungan tmpt sy tinggal, ternyata tidak demikian yang terjadi di tempat Romo Edy berkarya..tantangan dan kesulitan yang dihadapi jauh lebih besar dbanding disini, namun salut untuk usaha dan kerja keras yang Romo lakukan, smoga sukses ya Romo, tetap semangat, kami dukung terus dgn doa, Tuhan memberkati…

  7. andy Says:

    Puji Tuhan…..

  8. Christin Says:

    Romo Edyanto, saya menunggu tulisan2 atau berita tentang pengalaman Romo selama bertugas di Perancis lho, terus terang saya mengagumi tulisan Romo yang menurut saya sangat bagus pemaparannya, juga bahasanya yang runtut, enggak belepotan (dan nggak kehabisan kata2)sehingga enak dibaca, sudah pantes jadi wartawan nich Romo,hehe… Semangat Ya Romo!!
    Buat Romo Andy jangan bosen baca komentar saya ya…terimakasih.
    Tuhan memberkati.

  9. bernadus Says:

    ALLOW RM.EDYANTO……

    SUKSES SELALU YAW MO,DI PERANCISNYA.

    FERRY MUDIKA JEPARA

  10. payday loans Says:

    The author of http://www.msf-family.com has written an excellent article. You have made your point and there is not much to argue about. It is like the following universal truth that you can not argue with: The most embarrassing thing you can do as schoolchild is to call your teacher mum or dad. Thanks for the info.

  11. Andy Iswanto Says:

    secara khusus Rm Edy menuliskan pengalamannya di Berita keluarga MSF. Kita tunggu pengalaman pribadi beliau..gbu

Leave a Reply